
Cara menghitung titik impas toko madu adalah membagi total biaya tetap bulanan dengan sisa untung kotor dari setiap botol yang terjual. Hasilnya berupa jumlah botol minimum yang harus laku dalam sebulan agar toko tidak merugi.
Rumusnya sederhana, tetapi toko madu punya biaya khas seperti susut di jerigen, botol pecah, dan potongan marketplace yang sering membuat hitungan meleset. Biaya-biaya itu perlu masuk perhitungan sejak awal supaya target penjualan bulanan tidak terlalu rendah.
Titik Impas Toko Madu Berbeda dengan Balik Modal
Titik impas atau Break Even Point (BEP) adalah jumlah penjualan ketika uang masuk sama dengan seluruh biaya bulanan, sehingga toko tidak untung dan tidak rugi. Penjualan di bawah angka itu membuat pemilik menombok, sedangkan penjualan di atasnya mulai menyisakan laba.
Balik modal menghitung berapa lama uang yang sudah ditanam bisa kembali, sementara titik impas menghitung target penjualan setiap bulan. Kebutuhan modal usaha madu di awal dihitung terpisah, jadi toko yang sudah balik modal pun tetap perlu mengecek titik impasnya.
Cara Memilah Biaya Tetap dan Biaya Variabel Toko Madu
Hasil hitungan titik impas bergantung pada ketepatan memilah biaya. Biaya tetap tidak berubah saat penjualan naik atau turun, sedangkan biaya variabel bertambah setiap ada botol yang terjual.
Biaya tetap toko madu antara lain:
- Sewa tempat atau gudang kecil. Nilainya sama besar meski bulan itu sepi.
- Gaji pemilik dan admin. Masukkan gaji pemilik sebagai biaya tetap, karena dibayar sesuai jadwal dan bukan menunggu untung.
- Internet dan pulsa. Dipakai setiap hari untuk melayani calon pembeli di WhatsApp.
- Anggaran iklan dan sampel. Tetapkan nominalnya per bulan, lalu cek wajar tidaknya lewat hitungan biaya akuisisi pelanggan.
- Penyusutan alat. Nilai beli timbangan, alat segel, dan corong dibagi masa pakainya dalam bulan.
Biaya variabel toko madu meliputi:
- Madu dalam satu botol. Kalikan berat isi bersih dengan harga beli per kilogram, dan cek dulu 1 kg madu berapa liter bila botol dijual dalam ukuran mililiter.
- Susut dan cadangan botol pecah. Madu yang menempel di jerigen dan corong tidak ikut terjual, jadi sisihkan nilainya per botol.
- Botol, tutup, segel, dan label. Biayanya bertambah mengikuti jumlah botol.
- Kardus dan pelapis kiriman. Ongkos packing botol kaca naik seiring jumlah paket yang dikirim.
- Ongkir yang ditanggung penjual. Gratis ongkir termasuk biaya variabel, bukan biaya tetap.
- Potongan layanan marketplace. Berupa persen dari harga jual, sehingga perlu hitungan tersendiri.
Penjumlahan biaya variabel ini berbeda dari HPP yang sudah menyertakan sebagian biaya tetap seperti penyusutan alat. Pos-pos biayanya bisa dicatat dengan cara menghitung HPP bisnis madu, lalu dipisah lagi menjadi tetap dan variabel.
Cara Menghitung Titik Impas Toko Madu dalam 4 Langkah
Contoh berikut memakai angka permisalan untuk toko yang menjual madu kemasan isi bersih 350 gram. Ganti semua angkanya dengan catatan toko Anda sendiri. Langkahnya sebagai berikut:
- Jumlahkan seluruh biaya tetap dalam satu bulan.
- Jumlahkan biaya variabel untuk satu botol.
- Kurangkan biaya variabel dari harga jual untuk mendapat sisa per botol.
- Bagi biaya tetap dengan sisa per botol, lalu bulatkan hasilnya ke atas.
Sisa per botol itulah yang disebut margin kontribusi, yaitu uang dari satu botol yang tersedia untuk menutup biaya tetap. Titik impas toko madu atau BEP dalam botol sama dengan biaya tetap bulanan dibagi sisa untung kotor per botol.
Biaya tetap dalam contoh ini sebagai berikut:
| Biaya tetap per bulan | Nilai |
| Gaji pemilik | Rp2.500.000 |
| Sewa gudang kecil | Rp800.000 |
| Internet dan pulsa | Rp300.000 |
| Anggaran iklan dan sampel | Rp1.000.000 |
| Penyusutan alat | Rp100.000 |
| Total | Rp4.700.000 |
Biaya variabel untuk satu botol sebagai berikut:
| Biaya variabel per botol | Nilai |
| Madu 350 gram (harga beli Rp80.000 per kg) | Rp28.000 |
| Susut dan cadangan botol pecah | Rp1.000 |
| Botol dan tutup | Rp4.000 |
| Segel dan label | Rp1.500 |
| Kardus dan pelapis | Rp2.500 |
| Total | Rp37.000 |
Dengan harga jual Rp65.000, sisa per botol adalah Rp28.000 (Rp65.000 dikurangi Rp37.000). Biaya tetap Rp4.700.000 dibagi Rp28.000 menghasilkan 167,9, sehingga titik impasnya 168 botol per bulan.
Angka itu setara sekitar 6 botol per hari dan omzet Rp10.920.000 per bulan. Toko baru mulai untung pada botol ke-169, jadi target harian lebih mudah dipantau daripada target bulanan.
Jika toko biasanya menjual 200 botol, penjualan masih boleh turun sekitar 16 persen sebelum toko mulai rugi. Selisih inilah batas aman saat bulan sedang sepi.
Potongan Marketplace Membuat Titik Impas Lebih Tinggi
Potongan layanan marketplace dihitung dari persen harga jual, sehingga nilainya ikut naik saat harga naik. Karena itu potongan ini dikurangkan per botol, bukan dimasukkan ke biaya tetap.
Misalkan total potongan 8 persen dari Rp65.000, atau Rp5.200 per botol. Sisa per botol turun menjadi Rp22.800, lalu Rp4.700.000 dibagi Rp22.800 menghasilkan 206,1, sehingga titik impasnya naik dari 168 menjadi 207 botol per bulan.
Besaran potongan berbeda di tiap platform dan bisa berubah, jadi cek rinciannya di akun penjual sebelum menghitung. Penjual yang rutin menjual madu di marketplace sebaiknya memisahkan titik impas saluran ini dari penjualan lewat WhatsApp.
Menghitung Jumlah Botol untuk Target Laba
Titik impas hanyalah batas paling bawah. Untuk menargetkan laba, tambahkan laba yang diinginkan ke biaya tetap sebelum dibagi sisa per botol.
Misalkan toko ingin menyisihkan laba Rp2.000.000 per bulan untuk menambah stok. Biaya tetap ditambah target laba menjadi Rp6.700.000, lalu dibagi Rp28.000 menghasilkan 239,3, sehingga targetnya 240 botol atau sekitar 8 botol per hari.
Menghitung Titik Impas Bila Toko Menjual Dua Ukuran Botol
Toko dengan lebih dari satu ukuran botol perlu menghitung sisa rata-rata per botol sesuai komposisi penjualannya. Pakai komposisi dari catatan penjualan tiga bulan terakhir, bukan perkiraan.
Misalkan botol kecil menyisakan Rp28.000 dan mewakili 75 persen penjualan, sedangkan botol besar menyisakan Rp50.000 dan mewakili 25 persen. Sisa rata-rata per botol menjadi Rp33.500, sehingga titik impasnya 141 botol, terdiri dari sekitar 106 botol kecil dan 35 botol besar.
Cara yang sama berlaku untuk penjualan ke reseller atau warung dengan harga lebih rendah, karena sisa per botolnya berbeda dari penjualan eceran. Hitung tiap saluran seperti ukuran yang berdiri sendiri.
Cara Menurunkan Titik Impas Toko Madu Saat Harga Beli Naik
Kenaikan harga beli madu langsung menggeser titik impas. Jika harga beli naik Rp10.000 per kilogram, biaya madu tiap botol bertambah Rp3.500 dan sisa per botol turun menjadi Rp24.500. Akibatnya titik impas naik dari 168 menjadi 192 botol.
Hitung ulang titik impas setiap kali harga beli madu atau biaya tetap berubah, bukan hanya di awal usaha. Dengan begitu target penjualan selalu sesuai kondisi biaya terbaru.
Jika target baru terasa berat, ada tiga hal yang bisa digerakkan. Tiga hal itu sebagai berikut:
- Menyesuaikan harga jual. Setiap kenaikan Rp1.000 per botol menambah sisa per botol dengan jumlah yang sama, sehingga harga jual madu yang pas langsung memperkecil target.
- Menekan biaya tetap. Tinjau pos yang nilainya tidak sebanding hasilnya, misalnya iklan yang jarang mendatangkan pembeli baru.
- Menurunkan harga beli madu. Bandingkan penawaran harga grosir dari beberapa pemasok untuk jenis madu yang sama.
Baca juga: Cara Meningkatkan Margin Bisnis Madu Secara Efektif
Harga beli madu per kilogram adalah salah satu angka yang paling menggeser titik impas toko madu, karena ikut masuk ke setiap botol yang terjual.
Madu Kencono adalah peternak lebah sekaligus supplier madu asli berbadan hukum PT dan bersertifikat Halal. Layanannya mencakup grosir madu dan supply madu berkala ke seluruh Indonesia, dengan sampel gratis dan opsi COD.
Silakan hubungi kami dengan membawa daftar biaya tetap bulanan dan perkiraan botol yang terjual. Kami berikan penawaran harga yang bisa langsung masuk ke hitungan sisa per botol, sehingga titik impas toko madu Anda bisa dipastikan sebelum stok dibeli.





