
Perbedaan lebah trigona dan Apis mellifera paling mudah dilihat dari sengat, ukuran tubuh, dan bentuk sarangnya. Trigona kecil, tidak punya sengat berfungsi, dan menyimpan madu dalam pot kecil, sedangkan Apis mellifera lebih besar, bersengat, dan membangun sisir segi enam.
Produksi madunya pun timpang, sebab satu koloni Apis mellifera umumnya menghasilkan sekitar 10 sampai 30 kilogram per tahun, sementara trigona hanya 1 sampai 6 kilogram. Selisih itu ikut membentuk rasa, kekentalan, harga, dan cara penanganan madu yang akhirnya sampai ke pembeli.
Ringkasan Perbedaan Lebah Trigona dan Apis Mellifera
Trigona tidak memiliki sengat berfungsi dan menghasilkan madu jauh lebih sedikit, sedangkan Apis mellifera bersengat dan jauh lebih produktif. Perbedaan lainnya terlihat pada delapan hal utama.
| Aspek | Trigona (klanceng, kelulut) | Apis mellifera |
| Kelompok | Tribus Meliponini | Tribus Apini |
| Ukuran lebah pekerja | Sekitar 3 sampai 9 mm | Sekitar 10 sampai 15 mm |
| Sengat | Tidak berfungsi, bertahan dengan gigitan dan propolis | Berfungsi, berduri pada lebah pekerja |
| Sarang | Pot madu dan serbuk sari dari lilin dan propolis | Sisir lilin vertikal dengan sel segi enam |
| Jarak jelajah | Beberapa ratus meter dari sarang | Sekitar 3 km, bisa 8 sampai 13 km |
| Madu per koloni per tahun | Sekitar 1 sampai 6 kg | Sekitar 10 sampai 30 kg |
| Karakter madu | Manis asam, encer, kadar air lebih tinggi | Manis dominan, lebih kental |
| Cara panen | Madu disedot dari pot, sarang tetap utuh | Sisir diangkat, madu diputar atau diperas |
Trigona Bukan Apis, Jadi Nama Apis Trigona Itu Keliru
Trigona termasuk tribus Meliponini (lebah tanpa sengat), sedangkan Apis termasuk tribus Apini (lebah madu bersengat), meski keduanya sama-sama masuk famili Apidae. Karena itu nama “Apis trigona” yang sering muncul di berbagai bacaan keliru, sebab trigona bukan bagian dari genus Apis.
Banyak lebah yang di Indonesia disebut trigona, misalnya itama dan laeviceps, secara ilmiah sudah masuk genus Heterotrigona dan Tetragonula. Di lapangan, trigona lebih akrab disebut lebah klanceng, kelulut, atau galo-galo tergantung daerahnya.
Sebaliknya, Apis mellifera adalah lebah pendatang yang berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia barat. Lebah madu asli Asia, termasuk Indonesia, adalah Apis cerana.
Baca juga: Ketahui 6 Perbedaan Lebah Madu Mellifera dan Cerana
Sengat dan Cara Bertahan yang Berbeda Jauh
Trigona termasuk lebah tanpa sengat, jadi koloninya mempertahankan sarang dengan menggigit dan melumuri penyerang dengan propolis yang lengket. Gigitannya umumnya hanya terasa seperti cubitan ringan.
Pekerja Apis mellifera memakai sengat berduri yang tertinggal di kulit sasaran, dan itulah penyebab lebah mati setelah menyengat. Lebah yang menyengat juga melepaskan feromon alarm, sehingga lebah lain ikut menyerang secara serentak.
Lebah trigona aman dipelihara di pekarangan karena tidak menyengat, sedangkan Apis mellifera perlu lokasi yang jauh dari permukiman dan lalu lintas.
Bentuk Sarang dan Cara Panen yang Tidak Sama
Apis mellifera menyusun sisir lilin vertikal dengan sel segi enam untuk menyimpan madu, serbuk sari, dan anakan. Peternak memasang sisir ini di dalam stup berbingkai, sehingga bingkai bisa diangkat satu per satu.
Trigona membuat pot-pot kecil dari campuran lilin dan propolis untuk madu dan serbuk sari, sedangkan anakannya berada terpisah di bagian tengah sarang. Bentuk sarang klanceng seperti ini memungkinkan panen per pot tanpa membongkar seluruh koloni.
Akibatnya, cara panennya berbeda. Pada mellifera, sisir yang penuh diangkat lalu madunya diputar atau diperas, sedangkan pada trigona madu disedot dari pot yang sudah penuh.
Produksi Madu per Koloni, Kenapa Angkanya Sering Berbeda
Angka produksi yang beredar memang beragam. Untuk Apis mellifera ada yang menyebut 10, 20, sampai 30 kilogram per koloni per tahun, sedangkan trigona sekitar 1 sampai 6 kilogram. Selisih angka itu wajar karena hasil dipengaruhi spesies, ketersediaan bunga, musim, dan cara pengelolaan koloni.
Jumlah lebah dalam satu koloni juga sangat berbeda, sebab koloni mellifera berisi puluhan ribu lebah sedangkan koloni trigona jauh lebih kecil. Karena itu, satu koloni Apis mellifera menghasilkan madu jauh lebih banyak per tahun, dan inilah salah satu sebab utama madu klanceng dijual lebih mahal.
Bagi pembeli dalam jumlah besar, selisih ini berarti pasokan madu klanceng lebih terbatas dan lebih mudah terpengaruh musim dibanding madu ternak.
Jarak Jelajah yang Ikut Menentukan Jenis Madu
Jarak terbang lebah mellifera umumnya sekitar 3 kilometer dari sarang, dan bisa mencapai 8 sampai 13 kilometer saat bunga di sekitar sarang menipis. Jarak jelajah trigona jauh lebih pendek, umumnya hanya beberapa ratus meter.
Karena stup mellifera bisa dipindah mengikuti musim bunga, peternak dapat menghasilkan madu monoflora seperti randu atau kaliandra. Trigona umumnya menetap di satu lokasi, sehingga rasa madunya sangat dipengaruhi tanaman di sekitar stup.
Karakter Madu yang Dihasilkan dan Dampaknya pada Penyimpanan
Perbedaan lebah menghasilkan perbedaan sifat madu, dan sifat itu menentukan cara menyimpannya. Empat hal yang paling berpengaruh pada penanganan antara lain:
- Kadar air madu trigona cenderung lebih tinggi, sehingga risiko madu sudah fermentasi lebih besar jika tutup botol longgar atau penyimpanan terlalu panas.
- Madu trigona terasa manis bercampur asam, lebih encer, dan warnanya cenderung lebih gelap.
- Madu mellifera terasa manis dominan dan lebih kental.
- Madu mellifera lebih sering mengkristal secara alami, sedangkan madu trigona lebih jarang.
Madu trigona butuh penanganan lebih hati-hati karena kadar airnya lebih tinggi, sedangkan madu mellifera lebih stabil saat disimpan lama.
Baca juga: Inilah Beberapa Perbedaan Madu Klanceng dengan Madu Biasa
Mana yang Cocok, Lebah Trigona atau Apis Mellifera?
Trigona cocok untuk pemelihara dengan perawatan ringan, sedangkan Apis mellifera cocok untuk produksi volume besar. Pertimbangan utamanya sebagai berikut:
- Untuk pekarangan atau kebun kecil, trigona lebih sesuai karena tidak menyengat dan koloninya bisa diletakkan dekat rumah.
- Untuk volume panen besar dan pasokan lebih stabil, Apis mellifera lebih sesuai karena satu koloni jauh lebih produktif dan stupnya bisa dipindah mengikuti musim bunga.
- Apis mellifera rentan terhadap tungau Varroa dan penyakit pada koloni lebah lainnya, sehingga perlu pemeriksaan rutin.
- Trigona perlu dijauhkan dari sarang walet dan kebun yang disemprot pestisida, karena keduanya mengganggu koloni.
- Untuk pembeli bisnis, madu ternak dari Apis mellifera cocok bagi kebutuhan volume besar, sedangkan madu klanceng cocok untuk lini produk khusus dengan jumlah lebih kecil.
Baca juga: Begini Cara Budidaya Lebah Madu Trigona yang Tepat
Pelaku usaha herbal, minuman, dan olahan makanan umumnya membutuhkan jenis madu yang berbeda, bergantung pada produk akhirnya. Memahami asal lebahnya membantu memilih pasokan yang tepat sejak awal.
Madu Kencono adalah peternak lebah sekaligus pemasok madu asli dari gudang yang berada di Malang. Kami menyediakan madu ternak dari lebah Apis dan madu klanceng dari lebah trigona, langsung dari tangan pertama. Perusahaan kami berbadan hukum PT dan bersertifikat halal.
Untuk kebutuhan UMKM herbal, restoran, hotel, atau distributor, hubungi kami untuk meminta tester gratis dan penawaran grosir madu. Anda bisa membandingkan langsung karakter madu dari kedua jenis lebah sebelum memesan, dengan pengiriman ke seluruh Indonesia dan opsi COD.





